
Perayaan Tahun Baru Imlek selalu menghadirkan kemeriahan yang penuh warna dan makna budaya. Salah satu pusat perayaannya adalah Vihara Satya Dharma, destinasi religi yang terkenal di kalangan wisatawan dan masyarakat lokal. Bagi generasi muda yang sedang kuliah di Bali, termasuk civitas INSTIKI, mengenal tempat ibadah bersejarah ini bukan hanya menambah wawasan budaya, tetapi juga memperkaya pengalaman spiritual dan toleransi antarumat beragama. YUK! Mari Mengenal Vihara Satya Dharma Sebagai Tempat Ibadah Tridharma.
Vihara Satya Dharma merupakan salah satu vihara terbesar di Bali yang berdiri di kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar. Informasi yang dihimpun dari Tribun Bali menyebutkan bahwa vihara ini awalnya dibangun oleh para perantau beragama Buddha yang berasal dari Medan, Riau, Sumatera, Tanjung Pinang, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Pembangunannya dimulai pada tahun 2006 dan berlangsung sekitar enam tahun, sebelum akhirnya diresmikan pada Agustus 2012 oleh Wakil Gubernur Bali saat itu, Anak Agung Ngurah Puspayoga.
Lokasi vihara yang berada di jalur menuju pelabuhan dipilih secara khusus agar mudah diakses oleh para nelayan. Banyak nelayan datang untuk berdoa sebelum melaut, lalu kembali lagi setelah pulang sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan. Dikutip dari Bali Live, Nama Tionghoa dari kuil ini adalah Bao An Gong (保安宮). Bao (保) berarti perlindungan, An (安) berarti kedamaian, dan Gong (宮) berarti kuil atau istana. Dengan demikian, arti harfiah Bao An Gong dapat diterjemahkan sebagai ‘kuil untuk menjaga keamanan’.
Karena fungsi tersebut, vihara ini menjadi tempat pemujaan Dewa Ma Cho (Mazu), yang dipercaya sebagai dewa pelindung laut dan penjaga keselamatan pelaut. Dalam kepercayaan Tionghoa, Mazu dikenal sebagai pelindung perjalanan laut yang diyakini menolong pelaut saat menghadapi badai dan bahaya di lautan.
Saat memasuki area vihara, pengunjung langsung disambut arsitektur khas Tionghoa dengan dominasi warna merah dan ornamen detail bernilai seni tinggi. Vihara Satya Dharma juga dikenal sebagai tempat ibadah Tridharma, yaitu perpaduan ajaran Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme dalam satu kompleks spiritual. Hal ini terlihat dari keberadaan berbagai altar dewa dan singbing, termasuk altar utama untuk Nezha serta altar bagi dewa-dewi pelindung perjalanan dan perdagangan.
Selain sebagai tempat ibadah, vihara ini juga menjadi destinasi wisata religi yang sering dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satu ikon utamanya adalah patung Dewi Kwan Im setinggi 10 meter yang dapat terlihat dari kejauhan.
Pada dasarnya, hasil wawancara dengan pengurus vihara mengatakan jika semua orang dari berbagai latar belakang agama diperbolehkan datang dan bersembahyang di vihara ini, selama memiliki niat yang tulus dan menghormati tata cara yang berlaku. Saat perayaan Imlek, vihara biasanya sangat ramai dikunjungi umat sejak pagi hingga sore hari.
Bagi mahasiswa yang mencari kampus teknologi terbaik di Bali dan Nusa Tenggara, kampus IT terbaik di Bali dan Nusa Tenggara, maupun kampus swasta di Bali, pengalaman mengenal situs budaya seperti ini dapat menjadi pembelajaran kontekstual di luar kelas. Mengunjungi tempat seperti Vihara Satya Dharma bukan sekadar wisata, tetapi juga bentuk pembelajaran lintas budaya yang memperkaya perspektif generasi muda sebagai calon profesional masa depan.
Penulis : Putri Wirawaan
Referensi:
https://bali.live/p/the-vihara-satya-dharma-temple-in-bali-vihara-satya-dharma?utm_source=chatgpt.com
https://bali.tribunnews.com/2019/02/06/sejarah-pembangunan-vihara-satya-dharma-berawal-dari-nelayan-yang-merantau-ke-bali?page=2







Users Today : 221
Views Today : 408
Total views : 3714742
Who's Online : 1