
Pencapaian luar biasa kembali diukir oleh civitas akademika! Kabar gembira datang ketika dosen INSTIKI raih hibah penelitian kompetitif dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun anggaran 2026 melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM). Prestasi ini diraih oleh dosen sekaligus peneliti terbaik INSTIKI, Dr. Ir. I Putu Agus Eka Darma Udayana, S.Kom., M.T., IPM., bersama tim penelitinya.
Penelitian inovatif yang lolos pendanaan ini mengusung judul “Penerapan Sistem Deteksi Kelelahan Visual Multimodal DFA-Net Berbasis EEG dan Citra Wajah untuk KSOP Celukan Bawang”. Dalam pelaksanaannya, tim peneliti ini juga berkolaborasi dengan akademisi berpengalaman lainnya, yakni Prof. Dr. Ir. Made Sudarma, MASc., IPU., ASEAN Eng. dan Dr. Ir. I Wayan Agus Surya Darma, S.Kom., M.T.
Latar Belakang: Menjawab Tantangan Keselamatan Pelayaran
Sektor maritim Indonesia memiliki peran yang sangat strategis, namun di sisi lain juga menyimpan risiko operasional yang tinggi. Berdasarkan data dan laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sebagian besar kecelakaan laut seperti kapal menabrak dermaga, karam, hingga tabrakan antar kapal disebabkan oleh faktor manusia (human error), di mana kelelahan (fatigue) dan kantuk menyumbang hingga sekitar 70 persen dari total kasus kecelakaan laut di Indonesia.
Kondisi ini menjadi jauh lebih krusial bagi para petugas pemantau lalu lintas laut, seperti operator Stasiun Radio Pantai (SROP) di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Celukan Bawang, Buleleng, Bali. Bekerja selama berjam-jam, terutama pada shift malam dengan paparan layar monitor secara terus-menerus, rentan memicu kelelahan visual (visual fatigue). Ironisnya, selama ini pengawasan kondisi fisik operator masih bersifat subjektif dan mengandalkan pengamatan rekan kerja tanpa adanya alat ukur yang objektif.
Berangkat dari permasalahan nyata inilah Dr. Ir. I Putu Agus Eka Darma Udayana, S.Kom., M.T., IPM., dan tim menghadirkan solusi teknologi cerdas berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk mendeteksi kelelahan secara dini sebelum berubah menjadi risiko fatal bagi keselamatan pelayaran.
Inovasi Teknologi Multimodal DFA-Net: Menggabungkan Sinyal Otak dan Wajah
Sistem yang dikembangkan dinamakan DFA-Net dengan pendekatan multimodal, yakni menggabungkan dua sumber data utama secara real-time:
-
Sinyal Otak (EEG): Menggunakan perangkat headband khusus di kepala operator untuk membaca gelombang dan aktivitas otak, yang kemudian dibersihkan dari gangguan (noise) seperti kedipan mata.
-
Citra Wajah: Memanfaatkan webcam di meja kerja untuk memantau durasi mata tertutup, tingkat bukaan mata, hingga frekuensi menguap di ruang operasional yang remang.
Kedua data tersebut dipadukan secara adaptif oleh model kecerdasan buatan DFA-Net. Jika sinyal EEG mengalami gangguan, sistem secara otomatis mengandalkan analisis citra wajah, begitu pula sebaliknya. Sistem ini mampu mengklasifikasikan kondisi operator ke dalam tiga kategori, yaitu sadar, lelah (mendapatkan peringatan dini), atau microsleep (memicu alarm prioritas tinggi) dengan kecepatan respons di bawah dua detik. Selain itu, arsitektur sistem ini berbasis cloud, memungkinkan pimpinan memantau kondisi dan riwayat kelelahan operator secara terpusat melalui dashboard khusus tanpa membebani perangkat di lapangan.
Harapan dan Visi Masa Depan Peneliti
Melalui pendanaan hibah BRIN skema RIIM 2026 ini, Dr. Ir. I Putu Agus Eka Darma Udayana, S.Kom., M.T., IPM., bersama tim menyampaikan harapan besarnya terhadap keberlanjutan riset ini bagi sektor maritim Indonesia:
“Melalui dukungan hibah ini, kami berharap riset ini naik dari tahap penelitian menjadi produk terapan yang teruji di lingkungan kerja nyata. Dari KSOP Celukan Bawang, harapannya sistem ini bisa diadopsi KSOP lain, pelabuhan besar, dan pusat kendali lalu lintas laut, yang sama-sama memiliki pekerjaan berisiko tinggi. Ke depan kami ingin mengembangkannya ke arsitektur yang lebih ringan di perangkat sendiri (edge AI) dan menghubungkannya dengan ekosistem pelabuhan pintar nasional.”
Dr. Ir. I Putu Agus Eka Darma Udayana, S.Kom., M.T., IPM., juga menambahkan bahwa riset ini sangat sejalan dengan arah Revolusi Industri 5.0, di mana teknologi hadir untuk memanusiakan manusia.
“Kecerdasan buatan tidak hadir untuk menggantikan pekerja, melainkan menjadi asisten cerdas yang menjaga kesehatan dan keselamatan mereka. Operator yang bekerja berjam-jam, terutama di malam hari, berhak mendapat perlindungan, dan teknologi ini membantu mengenali kelelahan mereka sebelum berubah menjadi risiko bagi diri sendiri maupun bagi keselamatan pelayaran. Dengan begitu, kolaborasi antara manusia dan teknologi cerdas dapat menopang keselamatan dan keberlanjutan sektor maritim Indonesia, melalui teknologi buatan dalam negeri.”
Kesimpulan
Keberhasilan gemilang ini sekaligus menjadi wujud nyata pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya pada pilar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang senantiasa dijunjung tinggi oleh civitas akademika INSTIKI. Prestasi ini membuktikan bahwa dosen-dosen INSTIKI sebagai Kampus Teknologi Terbaik di Bali dan Nusa Tenggara – Professional IT Entrepreneur Campus tidak hanya unggul dalam dunia pengajaran di ruang kelas, tetapi juga konsisten aktif melahirkan riset inovatif dan solutif yang berdampak nyata bagi kemajuan masyarakat, dunia industri, serta perkembangan teknologi bangsa Indonesia.