
Hai, Civitas INSTIKI!
Saat mendengar kata Bali, mungkin yang langsung terbayang adalah pantai yang indah, destinasi wisata populer, atau deretan tempat nongkrong yang menarik. Padahal, Pulau Dewata juga memiliki kekayaan budaya yang masih lestari hingga saat ini. Salah satu pemandangan yang sering dijumpai saat berkendara di Bali adalah deretan penjor yang menjulang indah di sepanjang jalan WR Supratman dan Jalan Noja, Denpasar. Penjor-penjor tersebut seakan menyambut setiap orang yang melewati sepanjang jalan dan menghadirkan nuansa budaya yang begitu khas.
Bagi kalian yang sedang menempuh pendidikan di Bali, tentu sayang rasanya jika hanya mengenal sisi wisatanya saja. Ada banyak tradisi unik yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali. Salah satunya adalah Tradisi Ngerebong, sebuah ritual sakral yang berasal dari Desa Adat Kesiman, Kota Denpasar. Tradisi ini tidak hanya memikat karena prosesi yang unik, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang mendalam.
Apa Itu Tradisi Ngerebong?
Istilah Ngerebong berasal dari bahasa Bali yang berarti “berkumpul”. Masyarakat percaya bahwa pada saat upacara berlangsung, para dewa dan manifestasi-Nya turun untuk berkumpul serta memberikan berkah kepada umat.
Tradisi Ngerebong diselenggarakan setiap enam bulan sekali berdasarkan kalender Bali atau setiap 210 hari, tepatnya delapan hari setelah Hari Raya Kuningan, yaitu pada Redite Pon Wuku Medangsia. Upacara ini menjadi salah satu tradisi sakral yang paling dinantikan oleh masyarakat Desa Adat Kesiman.
Kilas Balik Sejarah Ngerebong
Berdasarkan informasi dari website Desa Kesiman dan Pemerintah Kota Denpasar, Tradisi Ngerebong telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa setelah Perang Puputan Badung tahun 1906. Pada awalnya, ritual ini dilaksanakan dalam skala yang lebih kecil di lingkungan Puri Kesiman. Seiring berjalannya waktu, pelaksanaannya dipusatkan di Pura Agung Petilan Pengerebongan dan secara resmi ditetapkan sebagai tradisi tetap pada tahun 1937. Hingga kini, Ngerebong masih terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kesiman.
Bagaimana Prosesi Pelaksanaannya?
Menjelang upacara dimulai, kawasan di sekitar pura akan ditutup sementara oleh pecalang untuk menjaga kelancaran dan kesakralan prosesi. Suasana menjadi semakin khidmat dengan kehadiran penjor yang menghiasi jalan, alunan gamelan Bali yang mengiringi jalannya upacara, serta harum bunga dan dupa yang memenuhi area pura.
Prosesi diawali dengan persembahyangan bersama, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan tabuh rah di wantilan sebagai bagian dari rangkaian upacara. Setelah itu, Barong dan Rangda diarak mengelilingi wantilan sebanyak tiga kali sebagai simbol keseimbangan antara kekuatan baik dan kekuatan yang bersifat menetralisir.
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah prosesi Ngurek atau Ngunying. Dalam prosesi ini, sejumlah pamedek mengalami kondisi kerauhan atau trance. Dalam keadaan tersebut, mereka menusukkan keris ke bagian tubuh seperti dada, leher, bahkan wajah. Meskipun terlihat ekstrem, masyarakat meyakini bahwa para peserta berada dalam perlindungan Ida Bhatara sehingga tidak mengalami luka. Setelah prosesi selesai, para pamedek kembali sadar seperti sediakala.
Makna Filosofis Tradisi Ngerebong
Tradisi Ngerebong bukan sekadar atraksi budaya atau ritual yang bersifat mistis. Lebih dari itu, upacara ini mengandung makna filosofis yang sangat mendalam, yaitu menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta.
Di dalam prosesi terdapat tahapan Prasawia, yaitu berjalan berlawanan arah jarum jam sebagai simbol menetralisir sifat-sifat negatif dalam diri manusia. Selanjutnya dilakukan Pradaksina atau Maider Bhuwana, yakni berjalan searah jarum jam yang melambangkan penguatan sifat-sifat baik dan nilai-nilai ketuhanan. Melalui rangkaian tersebut, masyarakat diajak untuk senantiasa menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam lingkungan, sejalan dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali.
Yuk, Kenali Budaya Bali Lebih Dekat!
Menyaksikan langsung Tradisi Ngerebong dapat menjadi pengalaman yang berkesan, terutama bagi mahasiswa yang sedang kuliah di Bali. Selain menambah wawasan tentang budaya lokal, pengalaman ini juga menjadi kesempatan untuk memahami nilai-nilai spiritual dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali.
Sebagai generasi muda, kita memiliki peran penting dalam menghargai sekaligus melestarikan warisan budaya Indonesia. Jadi, selama kuliah di Bali, jangan lewatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat tradisi-tradisi unik yang menjadi identitas Pulau Dewata. Karena kuliah di Bali bukan hanya tentang menempuh pendidikan, tetapi juga tentang belajar memahami budaya yang hidup dan terus dijaga hingga sekarang.
Ingin lebih banyak mengetahui artikel informatif, edukatif dan seputar kampus INSTIKI kampus IT, Desain, Bisnis Terbaik di Bali dan Nusa Tenggara? cus kepoin wesbitenya di Instiki.ac.id