
Hari Raya Galungan merupakan salah satu hari suci bagi umat Hindu di Bali yang diperingati setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Bali. Galungan dimaknai sebagai kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan). Perayaan ini tidak hanya diwujudkan melalui persembahyangan, tetapi juga melalui berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi-tradisi tersebut mencerminkan nilai spiritual, kebersamaan, rasa syukur, serta penghormatan kepada leluhur.

1. Ngelawang Barong
Ngelawang berasal dari kata lawang yang berarti pintu. Tradisi ini dilakukan dengan mengarak Barong Bangkal dari pintu ke pintu rumah warga di lingkungan banjar atau desa. Arak-arakan tersebut diiringi alunan gamelan yang menambah suasana sakral sekaligus meriah. Barong Bangkal berbentuk babi besar dengan wajah menyeramkan. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, barong memiliki kekuatan magis yang mampu menangkal pengaruh buruk. Barong dimainkan oleh dua orang penari, yaitu penari yang mengendalikan bagian kepala dan penari yang menggerakkan bagian ekor. Tradisi Ngelawang bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat yang diyakini dapat mengganggu ketenteraman desa. Dengan demikian, masyarakat berharap memperoleh perlindungan, keselamatan, dan kedamaian.
2. Mapeed
Mapeed merupakan tradisi berjalan beriringan menuju pura sambil menjunjung keben atau wadah sesajen yang terbuat dari bambu. Tradisi ini dilakukan sebagai bagian dari rangkaian persembahyangan pada Hari Raya Galungan. Sesajen yang dibawa biasanya berisi buah-buahan, bunga, serta berbagai hiasan dari janur. Selain menjadi bentuk bhakti kepada Tuhan, Mapeed juga mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat Bali. Barisan umat Hindu yang mengenakan pakaian adat sambil membawa sesajen menuju pura sering kali menjadi pemandangan yang menarik perhatian wisatawan, karena memperlihatkan kekayaan budaya Bali yang masih terjaga hingga kini.

3. Ngejot
Ngejot adalah tradisi berbagi makanan kepada tetangga, baik sesama umat Hindu maupun masyarakat dari agama lain. Tradisi ini umumnya dilakukan menjelang Hari Raya Galungan hingga hari pelaksanaannya. Melalui Ngejot, masyarakat Bali menunjukkan nilai toleransi dan keharmonisan antarumat beragama. Hidangan yang dibagikan menjadi simbol rasa syukur sekaligus sarana mempererat hubungan sosial di lingkungan sekitar. Tradisi ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi terciptanya persaudaraan dan sikap saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.

4. Memasang Penjor
Menjelang Hari Raya Galungan, umat Hindu memasang penjor di depan rumah maupun di sepanjang jalan desa. Penjor merupakan bambu tinggi yang ujungnya melengkung dan dihiasi janur serta berbagai hasil bumi. Bagi umat Hindu, penjor melambangkan rasa syukur atas anugerah kemakmuran yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi Wasa. Penjor juga dimaknai sebagai simbol Gunung Agung yang dianggap suci serta lambang kekuatan Sang Hyang Brahma. Hiasan penjor biasanya dilengkapi dengan umbi-umbian, buah-buahan, palawija, dan sesajen. Pemasangannya dilakukan pada Hari Penampahan Galungan, yaitu sehari sebelum Hari Raya Galungan setelah tengah hari.

5. Makanan Khas Galungan
Perayaan Galungan juga identik dengan berbagai sajian khas yang dipersiapkan oleh masyarakat Bali. Salah satunya adalah tape ketan atau yang dikenal sebagai tape Galungan. Proses pembuatannya telah dimulai sejak Hari Penyekeban, tiga hari sebelum Galungan. Pada Hari Penampahan, keluarga biasanya memotong babi untuk diolah menjadi aneka masakan khas. Selain itu, dodol juga sering dibuat untuk melengkapi sarana upacara dan sesajen yang digunakan saat persembahyangan. Keberadaan makanan khas tersebut tidak hanya menjadi bagian dari tradisi kuliner, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dalam keluarga.

6. Mekotek
Mekotek merupakan tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tradisi ini dilaksanakan dalam rangkaian perayaan Kuningan yang masih berkaitan erat dengan Hari Raya Galungan. Pelaksanaannya dilakukan dengan menyatukan tongkat-tongkat kayu hingga membentuk kerucut. Para peserta kemudian berputar dan bergerak dinamis diiringi tabuhan gamelan. Nama Mekotek berasal dari bunyi “tek-tek” yang muncul akibat benturan antarbatang kayu. Tradisi ini dipercaya sebagai upaya tolak bala untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Hingga kini, Mekotek tetap dipertahankan sebagai warisan budaya yang sarat makna.

7. Ngurek
Ngurek atau Ngunying merupakan tradisi yang banyak dijumpai di berbagai daerah di Bali saat perayaan Galungan dan Kuningan. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam pelaksanaannya, para peserta menusukkan senjata tajam seperti keris, tombak, atau pisau ke bagian tubuh mereka. Menurut kepercayaan setempat, pelaku Ngurek yang berada dalam kondisi kerauhan atau trance tidak akan merasakan sakit maupun mengalami luka. Tradisi ini tidak dapat dilakukan sembarangan. Pelakunya harus memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk menjaga kerendahan hati dan tidak bersikap sombong. Ngurek diyakini telah ada sejak masa kerajaan sebagai bagian dari ungkapan syukur kepada Tuhan.
8. Memunjung
Memunjung adalah tradisi mengunjungi kuburan dengan membawa sesajen setelah melaksanakan persembahyangan pada Hari Raya Galungan atau Kuningan. Keluarga membawa berbagai makanan yang dahulu disukai oleh anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Makanan tersebut dihaturkan di area makam sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan kasih sayang kepada leluhur. Tradisi ini berlandaskan keyakinan bahwa arwah orang yang belum melalui prosesi Ngaben masih berada dalam pengawasan Sang Hyang Prajapati yang berstana di setra atau kuburan. Oleh karena itu, Memunjung menjadi sarana untuk menjaga hubungan spiritual antara keluarga yang masih hidup dengan para leluhur.
Penutup
Tradisi Bali sangat beragam dan sarat akan nilai-nilai kehidupan, mulai dari spiritualitas, kebersamaan, hingga penghormatan terhadap leluhur. Keberagaman budaya inilah yang menjadikan Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai tempat yang kaya akan warisan budaya dan kearifan lokal yang patut dilestarikan oleh generasi muda.
Bagi kamu yang tertarik untuk melanjutkan pendidikan di Pulau Dewata, tidak ada salahnya mengenal lebih dekat INSTIKI (Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia) sebagai Kampus Teknologi, Bisnis, dan Desain Terbaik di Bali dan Nusa Tenggara. Dengan berbagai program studi yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini, INSTIKI siap menjadi tempat bertumbuh, berinovasi, dan meraih masa depan yang gemilang. Yuk, cari tahu informasi lebih lanjut dengan mengunjungi website resminya di www.instiki.ac.id.