
Hai Civitas INSTIKI!
Tahukah kalian bahwa sejarah ogoh-ogoh di Bali ternyata memiliki perjalanan panjang sebelum menjadi tradisi yang selalu meriah menjelang Hari Raya Nyepi? Sebagai pelajar akademik yang sedang kuliah di Bali, tentu kita tidak asing dengan kemeriahan tradisi Ogoh-ogoh yang selalu dinantikan setiap tahunnya.
Dari anak-anak hingga orang dewasa, momen pawai ogoh-ogoh selalu menjadi perayaan yang penuh semangat dan makna. Pada 18 Maret 2026, masyarakat Bali kembali merayakan Pengerupukan, yaitu sehari sebelum Nyepi, yang ditandai dengan parade ogoh-ogoh di berbagai desa dan kota. Patung raksasa dengan bentuk menyeramkan tersebut diarak keliling desa sebelum akhirnya dibakar sebagai simbol menetralisir energi negatif. Namun di balik kemeriahannya, sejarah ogoh-ogoh di Bali menyimpan cerita panjang tentang budaya, kreativitas, dan tradisi masyarakat yang berkembang dari masa ke masa.
Awal Mula Sejarah Ogoh-Ogoh di Bali
Jika melihat ke masa lalu, bentuk ogoh-ogoh yang kita kenal sekarang ternyata tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa kajian budaya, tradisi ini diyakini memiliki akar dari lelakut, yaitu orang-orangan sawah yang digunakan para petani Bali untuk menakuti burung dan hama di sawah. Lelakut tersebut dibuat menyerupai manusia atau makhluk tertentu agar terlihat menakutkan. Selain itu, beberapa naskah lontar Bali juga menyebutkan penggunaan patung atau simbol tertentu dalam berbagai upacara keagamaan. Patung-patung ini berfungsi sebagai bagian dari perlengkapan ritual dalam upacara seperti manusa yadnya, bhuta yadnya, hingga dewa yadnya.
Dalam beberapa tradisi adat di Bali, bentuk yang menyerupai ogoh-ogoh juga pernah digunakan dalam prosesi ngaben atau upacara kremasi. Bahkan dokumentasi lama menunjukkan kemunculan figur mirip ogoh-ogoh dalam film dokumenter tentang Bali pada tahun 1937. Meski demikian, ogoh-ogoh yang dikenal luas oleh masyarakat saat ini mulai berkembang pesat pada sekitar tahun 1980-an. Hal ini terjadi setelah Hari Raya Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah Indonesia. Sejak saat itu, masyarakat Bali semakin aktif membuat ogoh-ogoh sebagai bagian dari rangkaian ritual Tawur Kesanga pada malam Pengerupukan.
Seperti dijelaskan dalam kajian budaya Bali, tradisi ogoh-ogoh pada awalnya merupakan bentuk ekspresi kegembiraan masyarakat yang kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan yang melibatkan berbagai banjar dan kelompok pemuda di Bali.
“Tradisi ogoh-ogoh pada awalnya merupakan ekspresi kegembiraan masyarakat Bali setelah Hari Raya Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional, yang kemudian berkembang menjadi pawai tahunan yang melibatkan masyarakat banjar.”
— dikutip dari buku karya Dana, G. W. P., & Adnyana, P. E. S. (2025). Ogoh-Ogoh: Tradisi Budaya Bali yang Mendunia, Sejarah dan Perkembangannya di Kota Denpasar. PT. Dharma Pustaka Utama.
Ogoh-Ogoh dan Makna Ritualnya
Dalam tradisi Bali, ogoh-ogoh biasanya menggambarkan sosok Bhuta Kala, yaitu simbol kekuatan negatif atau energi yang harus dinetralisir. Oleh karena itu, setelah diarak keliling desa, ogoh-ogoh biasanya akan dibakar.
Proses ini melambangkan pembersihan diri dan lingkungan sebelum umat Hindu memasuki Hari Raya Nyepi, hari yang didedikasikan untuk introspeksi, keheningan, dan keseimbangan alam. Selain makna religius, proses pembuatan ogoh-ogoh juga mencerminkan nilai kebersamaan masyarakat Bali. Pembuatan patung raksasa ini biasanya melibatkan banyak orang, terutama generasi muda yang tergabung dalam kelompok sekaa teruna di setiap banjar.
Perkembangan Ogoh-Ogoh di Era Modern
Seiring perkembangan zaman, ogoh-ogoh tidak hanya berkembang dalam makna ritual, tetapi juga dalam bentuk dan kreativitasnya. Dahulu, ogoh-ogoh umumnya hanya berbentuk sosok Bhuta Kala yang menyeramkan. Namun sekarang, bentuknya semakin beragam. Banyak seniman dan pemuda Bali menciptakan ogoh-ogoh dengan karakter dari cerita pewayangan, legenda Bali, hingga tokoh populer dari budaya modern.
Perkembangan ini menjadikan ogoh-ogoh tidak hanya sebagai simbol ritual, tetapi juga sebagai karya seni kreatif yang menunjukkan kemampuan artistik masyarakat Bali. Selain itu, teknologi juga mulai digunakan dalam pembuatan ogoh-ogoh modern. Beberapa ogoh-ogoh bahkan dirancang sebagai seni kinetik yang dapat bergerak menggunakan mekanisme tertentu atau teknologi digital.
Dari Tradisi Lokal Menjadi Ikon Global
Menariknya, ogoh-ogoh kini tidak hanya dikenal di Bali. Tradisi ini telah menjadi salah satu ikon budaya dan pariwisata Indonesia yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun internasional. Pawai ogoh-ogoh menjelang Nyepi sering menjadi daya tarik wisata yang dinanti-nantikan. Banyak wisatawan datang ke Bali khusus untuk menyaksikan parade ini sebelum menikmati suasana hening pada Hari Raya Nyepi. Beberapa ogoh-ogoh bahkan pernah dipamerkan dalam festival budaya di berbagai kota di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi yang berakar dari budaya lokal Bali kini telah berkembang menjadi bagian dari ekonomi kreatif dan diplomasi budaya Indonesia di dunia.
Tradisi yang Terus Hidup
Hari ini, setiap kali Pengerupukan tiba, jalan-jalan di Bali kembali dipenuhi suara gamelan, sorak sorai masyarakat, dan ogoh-ogoh yang diarak dengan penuh semangat. Tradisi ini bukan hanya sekadar parade, tetapi juga simbol kebersamaan, kreativitas, dan identitas budaya Bali. Dari lelakut di sawah hingga patung raksasa yang mendunia, perjalanan ogoh-ogoh menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan makna budayanya.
Ingin lebih banyak mengetahui artikel informatif, edukatif dan seputar kampus INSTIKI? cus kepoin wesbitenya di Instiki.ac.id
Sumber Referensi:
Dana, G. W. P., & Adnyana, P. E. S. (2025). Ogoh-Ogoh: Tradisi Budaya Bali yang Mendunia, Sejarah dan Perkembangannya di Kota Denpasar. PT. Dharma Pustaka Utama.
Penulis : Putri Wirawaan











Users Today : 70
Views Today : 97
Total views : 3736669
Who's Online : 7