
Hai Civitas INSTIKI! 👋
Setelah merayakan Hari Raya Galungan dengan penuh sukacita, umat Hindu kembali menyambut Hari Raya Kuningan yang datang tepat sepuluh hari setelah Galungan. Kuningan merupakan salah satu hari suci penting dalam rangkaian Hari Raya Galungan yang sarat akan makna spiritual, rasa syukur, serta penghormatan kepada para leluhur.
Namun, pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa Hari Raya Kuningan dirayakan tepat sepuluh hari setelah Galungan? Berikut beberapa makna dan tradisi yang perlu diketahui.
Momen Mengantar Kembali Para Leluhur
Dalam sistem kalender Bali atau Pawukon, Hari Raya Galungan melambangkan kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma (kejahatan). Pada saat Galungan, umat Hindu meyakini bahwa para leluhur turun ke dunia untuk mengunjungi keluarga dan keturunannya. Setelah berada di dunia selama sepuluh hari, Hari Raya Kuningan menjadi momen untuk menghaturkan penghormatan sekaligus mengantar kembali para leluhur menuju alam niskala. Oleh karena itu, Kuningan menjadi simbol rasa syukur, penghormatan, dan doa bagi keselamatan serta kesejahteraan keluarga.
Filosofi Nasi Kuning sebagai Lambang Kemakmuran
Salah satu ciri khas Hari Raya Kuningan adalah penggunaan nasi kuning dalam berbagai sarana upacara. Warna kuning memiliki makna simbolis sebagai lambang kemakmuran, kesejahteraan, dan anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melalui persembahan nasi kuning, umat Hindu mengungkapkan rasa syukur atas segala berkah yang telah diterima sekaligus memohon kehidupan yang harmonis dan sejahtera di masa mendatang.
Penampahan Kuningan, Hari Persiapan Menyambut Kuningan
Sehari sebelum Hari Raya Kuningan, umat Hindu melaksanakan Penampahan Kuningan yang jatuh pada Sukra Wage Wuku Kuningan. Pada hari ini, masyarakat biasanya melakukan berbagai persiapan upacara, mulai dari membuat banten hingga menyiapkan kebutuhan persembahyangan. Suasana Penampahan Kuningan identik dengan aktivitas keluarga yang bekerja sama menyiapkan seluruh sarana upakara sebagai bentuk kesiapan lahir dan batin menyambut hari suci.
Persembahyangan Dilaksanakan Sebelum Tengah Hari
Salah satu keunikan Hari Raya Kuningan adalah pelaksanaan persembahyangan yang umumnya dilakukan sebelum pukul 12.00 siang. Tradisi ini berlandaskan keyakinan bahwa para Dewa dan leluhur yang turun ke dunia pada hari Kuningan akan kembali ke kahyangan sebelum tengah hari. Oleh karena itu, umat Hindu berupaya menghaturkan persembahan dan sembahyang sejak pagi hari agar dapat menerima berkah serta tuntunan spiritual secara maksimal.
Sarana Upakara yang Menghiasi Hari Raya Kuningan
Saat Hari Raya Kuningan, rumah-rumah umat Hindu akan dihiasi berbagai sarana upacara yang memiliki makna filosofis tersendiri, seperti tamiang, kolem, dan gantung-gantungan. Selain itu, berbagai persembahan juga dihaturkan di tempat-tempat suci keluarga sesuai dengan tradisi yang berlaku. Seluruh sarana tersebut menjadi simbol perlindungan, kesejahteraan, serta rasa syukur atas kemenangan dharma dalam kehidupan.
Momentum Memperkuat Dharma dalam Kehidupan
Hari Raya Kuningan tidak hanya menjadi penutup rangkaian Galungan, tetapi juga mengingatkan umat Hindu untuk terus menjalankan nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari. Perayaan ini menjadi simbol kemenangan kebaikan, penguatan spiritual, serta penghormatan kepada leluhur yang telah mendahului. Melalui Hari Raya Kuningan, umat Hindu diajak untuk senantiasa menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
Selamat Hari Raya Kuningan bagi seluruh Civitas INSTIKI yang merayakan. Semoga kedamaian, kebahagiaan, dan kerahayuan senantiasa menyertai langkah kita semua.
Rahajeng Rahina Kuningan. 🙏✨
Ingin lebih banyak mengetahui artikel informatif, edukatif dan seputar kampus INSTIKI kampus IT, Desain, Bisnis Terbaik di Bali dan Nusa Tenggara? cus kepoin wesbitenya di Instiki.ac.id