
Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan hari suci yang dirayakan oleh umat Hindu, khususnya di Bali. Perayaan ini memiliki makna sebagai kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Berdasarkan cerita dalam mitologi Hindu Bali, kemenangan tersebut dikaitkan dengan keberhasilan Bhatara Indra mengalahkan raksasa Mayadenawa yang bersifat angkuh dan melarang masyarakat melakukan persembahyangan kepada para dewa.
Perayaan Galungan dan Kuningan tidak hanya berlangsung dalam satu hari, melainkan melalui serangkaian tahapan yang penuh makna spiritual. Setiap tahapan mengajarkan umat untuk membersihkan diri, mengendalikan hawa nafsu, serta meningkatkan rasa syukur kepada Tuhan.
1. Tumpek Wariga
Tumpek Wariga dilaksanakan 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Pada hari ini, umat Hindu memohon keselamatan dan kesuburan tumbuh-tumbuhan kepada Sang Hyang Sangkara sebagai manifestasi Tuhan yang melindungi alam. Masyarakat menghaturkan sesaji berupa bubur dengan berbagai warna sesuai jenis tumbuhan. Tradisi ini mencerminkan rasa cinta dan penghormatan manusia terhadap alam sebagai sumber kehidupan.
2. Sugihan Jawa
Sugihan Jawa merupakan hari penyucian lingkungan atau Bhuana Agung (alam semesta). Umat membersihkan tempat suci, rumah, serta lingkungan sekitar sebagai simbol menghilangkan hal-hal negatif. Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta keseimbangan antara manusia dan alam.
3. Sugihan Bali
Berbeda dengan Sugihan Jawa, Sugihan Bali berfokus pada penyucian diri atau Bhuana Alit. Umat melakukan pembersihan lahir dan batin melalui mandi, sembahyang, serta memohon tirta suci. Tujuannya agar setiap orang dapat menyambut Galungan dengan hati yang bersih dan penuh ketulusan.
4. Hari Penyekeban
Penyekeban berasal dari kata nyekeb yang berarti mengekang atau mengendalikan. Hari ini mengajarkan umat untuk mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan agar tidak terjerumus dalam tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama.
5. Hari Penyajan
Penyajan memiliki arti memantapkan diri dengan sungguh-sungguh. Umat diajak untuk memperkuat keyakinan dan menjaga keteguhan hati menjelang Hari Raya Galungan. Hari ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia akan selalu menghadapi godaan dalam menjalankan kebaikan.
6. Hari Penampahan
Penampahan dilaksanakan sehari sebelum Galungan. Pada hari ini, masyarakat membuat penjor, yaitu hiasan dari bambu yang dipasang di depan rumah sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah Tuhan. Selain itu, dilakukan persiapan berbagai sarana upacara. Penampahan juga mengandung makna simbolis untuk mengalahkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
7. Hari Raya Galungan
Hari Raya Galungan merupakan puncak perayaan yang melambangkan kemenangan Dharma atas Adharma. Umat Hindu melaksanakan persembahyangan di rumah, pura keluarga, maupun pura umum. Pada hari suci ini, banyak masyarakat yang pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga dan mempererat hubungan kekeluargaan.

8. Umanis Galungan
Sehari setelah Galungan disebut Umanis Galungan. Umat biasanya melakukan Dharma Santi, yaitu saling berkunjung dan mempererat tali persaudaraan. Di beberapa daerah di Bali juga terdapat tradisi ngelawang, yaitu pertunjukan barong yang dipercaya membawa berkah dan menolak hal-hal negatif.
9. Pemaridan Guru
Hari Pemaridan Guru merupakan waktu untuk memohon anugerah dan tuntunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Guru. Umat berdoa agar diberikan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
10. Ulihan
Ulihan berarti kembali atau pulang. Hari ini dipercaya sebagai saat para leluhur dan para dewa kembali ke kahyangan setelah hadir dalam rangkaian perayaan Galungan. Umat mengiringinya dengan doa dan ungkapan terima kasih atas berkah yang telah diberikan.
11. Pemacekan Agung
Pemacekan Agung bermakna keteguhan iman. Setelah melalui berbagai rangkaian upacara, umat diharapkan tetap konsisten menjalankan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
12. Hari Raya Kuningan
Hari Raya Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah Galungan. Perayaan ini menjadi simbol berakhirnya kunjungan para leluhur ke dunia. Warna kuning yang mendominasi berbagai sarana upacara melambangkan kemakmuran, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Umat melaksanakan persembahyangan sebelum tengah hari sebagai bentuk penghormatan kepada para dewa dan leluhur.
13. Pegat Wakan
Pegat Wakan merupakan penutup seluruh rangkaian Galungan dan Kuningan. Pada hari ini, penjor yang telah dipasang sebelumnya dicabut. Abu hasil pembakarannya ditanam di pekarangan rumah sebagai simbol mengembalikan segala sesuatu kepada alam dan mengakhiri rangkaian upacara dengan penuh rasa syukur.
Penutup
Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan tidak hanya mengandung nilai keagamaan, tetapi juga mengajarkan berbagai nilai kehidupan, seperti menjaga keharmonisan dengan alam, membersihkan diri lahir dan batin, mengendalikan hawa nafsu, mempererat hubungan keluarga, serta mempertahankan kebenaran dalam setiap tindakan. Melalui perayaan ini, umat Hindu diingatkan untuk selalu menjadikan Dharma sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Ingin mendapatkan informasi terbaru seputar teknologi, pendidikan, kreativitas digital, dan berbagai kegiatan kampus INSTIKI sebagai Kampus Teknologi, Bisnis dan Desain Terbaik di Bali dan Nusa Tenggara? cus kepoin wesbitenya di Instiki.ac.id
Sumber Referensi : DPD HPI Bali. 2019. Galungan dan Kuningan