
Civitas INSTIKI!
Udah nonton film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya??
Kalau belum, wajib banget intip dulu teaser-nya di sini. Dari awal saja, nuansa emosional film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? sudah terasa kuat dan bikin penasaran.
Film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? yang tayang pada April 2026 ini menjadi salah satu drama keluarga Indonesia yang cukup relate dengan kehidupan anak muda. Tidak sekadar menghadirkan cerita sedih, film ini mengangkat realita tentang keluarga yang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya menyimpan banyak hal yang tidak pernah dikomunikasikan.
Cerita yang Dekat dengan Realita
Film ini berpusat pada karakter Dira yang diperankan oleh Mawar de Jongh, seorang anak perempuan yang tumbuh dalam keluarga yang secara fisik utuh, tetapi secara emosional terasa timpang. Ia tinggal bersama adiknya, Darin diperankan oleh Rey Bong, serta ibunya, Lia diperankan oleh Unique Priscilla, yang menjalankan warung makan sebagai sumber penghidupan keluarga.
Di balik kehidupan sederhana yang tampak hangat, tersimpan tekanan besar yang dipikul sang ibu sebagai tulang punggung keluarga. Sementara itu, sang ayah, Yudi diperankan oleh Dwi Sasono, hadir secara fisik tetapi gagal menjalankan perannya sebagai figur yang memberi arah dan dukungan emosional.
Konflik mulai memuncak ketika sebuah insiden ledakan kompor mengubah segalanya. Lia mengalami luka serius, dan secara tiba-tiba Dira harus mengambil alih tanggung jawab keluarga. Dalam usia yang masih muda, ia dipaksa menjadi “orang dewasa” sebelum waktunya.
Sosok Dira yang Relatable
Salah satu kekuatan utama film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? terletak pada karakter Dira yang sangat relatable. Ia merepresentasikan banyak anak pertama, terutama perempuan, yang harus mengorbankan mimpi pribadi demi keluarga. Tanggung jawab menjaga adik, mengurus rumah, hingga menggantikan peran ibu menjadi beban yang tidak bisa dihindari. Konflik batin yang dialami Dira antara ingin menyerah dan harus tetap kuat membuat penonton mudah terhubung secara emosional.
Fatherless yang Hadir Tapi Tak Pernah Ada
Salah satu isu utama yang diangkat adalah fenomena fatherless, yaitu kondisi ketika sosok ayah ada secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional. Yudi digambarkan sebagai ayah yang terjebak dalam dunianya sendiri, tanpa benar-benar memahami kebutuhan anak-anaknya. Relasi antara ayah dan anak dalam film ini terasa dingin dan penuh jarak. Bukan karena tidak ada rasa sayang, tetapi karena komunikasi yang tidak pernah benar-benar terbangun. Tidak ada ruang untuk berbagi, tidak ada percakapan yang bermakna yang ada hanya diam dan kesalahpahaman yang terus menumpuk. Film ini secara halus menunjukkan bahwa masalah dalam keluarga sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya cinta, melainkan karena gagalnya komunikasi.
Penyampaian yang Emosional, Namun Berat
Dari segi penyutradaraan, Kuntz Agus memilih pendekatan narasi yang perlahan dan kontemplatif. Penonton diajak merasakan setiap emosi tanpa terburu-buru. Namun di sisi lain, film ini juga sempat mendapat kritik karena alurnya yang terasa terlalu “menumpuk” dengan berbagai kesialan yang dialami karakter. Meski begitu, kekuatan emosional cerita tetap menjadi daya tarik utama. Film ini bukan sekadar tontonan, tetapi pengalaman yang bisa menyentuh sisi personal penontonnya.
Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? bukan sekadar film drama keluarga biasa. Film ini adalah refleksi tentang hubungan, komunikasi, dan perasaan yang sering kali dipendam dalam keluarga. Buat civitas INSTIKI, film ini bisa jadi bukan cuma tontonan, tapi juga bahan refleksi. Karena pada akhirnya, masalah dalam keluarga sering kali bukan karena tidak ada rasa saying melainkan karena tidak pernah ada komunikasi yang benar-benar sampai.
Ingin lebih banyak mengetahui artikel informatif, edukatif, lifestyle dan seputar kampus INSTIKI? cus kepoin wesbitenya di Instiki.ac.id
Penulis : Putri Wirawaan







Users Today : 805
Views Today : 1053
Total views : 3797343
Who's Online : 7